Permintaan makanan sehat seperti buah-buahan dan sayuran meningkat sejak karantina dan social distancing. Sementara sektor lain menyusut, pertanian berhasil mencatatkan pertumbuhan selama pandemi COVID-19. Selama ini, orang semakin peduli dengan kesehatan mereka, dari kebersihan hingga keamanan makanan, itulah sebabnya mereka cenderung memasak lebih banyak di rumah untuk keluarga mereka.

Cara membeli makanan juga digeser dari belanja bahan makanan di tempat ke pembelian online. Sebuah studi menemukan, lebih dari sepertiga populasi online secara global mengatakan mereka telah membeli barang belanjaan secara online dalam sebulan terakhir.

Menurut Statistik Indonesia (BPS), Indonesia sebagai salah satu eksportir terbesar produk pertanian telah mencapai US$410 juta pada September atau naik 16,22% dari bulan yang sama tahun lalu. Hal ini masih diperkirakan akan terus meningkat karena perubahan dan gangguan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Mayoritas produk yang diekspor adalah kopi, sayuran, kacang sirih, kelapa, buah-buahan (jambu biji, mangga, manggis), cengkeh dan lada. Produk pertanian ini diekspor ke Malaysia, Singapura, Cina, Jepang, Hong Kong, dan Amerika Serikat.

Gambar : SocialFarm
Gambar: SocialFarm

Dengan pasokan yang melimpah dan permintaan yang tinggi, ada tantangan yang harus dihadapi petani di tengah pandemi. Mei lalu, petani di Malang, Jawa Timur, Indonesia, viral karena memberikan hasil pertaniannya di jalan, bahkan ada yang kedapatan membuangnya. Hal itu mereka lakukan di tengah kebijakan pembatasan sosial (PSBB) ketika pasar ditutup dan mereka tidak memiliki platform lain untuk menjual produk panen kepada pelanggan.

Untuk ekspor, produk pertanian Indonesia memiliki beberapa isu yang berkaitan dengan standar internasional, seperti sertifikasi organik, keberlanjutan, ketertelusian, dan transparansi.

Akhir-akhir ini, pemerintah Indonesia berupaya mengamankan pasokan pangan dari petani ke konsumen. Kadin bermitra dengan platform kerja sama publik-swasta untuk kemitraan sistem loop tertutup. Seperti yang disampaikan oleh ketua agribisnis, pangan dan kehutanan Kadin kepada Jakarta Post, kemitraan ini mencakup edukasi bagi petani hingga jaminan pembelian.